Kamis, 23 April 2015

Tradisi Pemakaman Unik Desa Trunyan







Desa Trunyan adalah salah satu aset wisata dari Kabupaten Bangli,Bali. Desa ini memiliki tradisi pemakaman yang sangat unik dan sudah sangat terkenal yang menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara . Trunyan adalah salah satu desa yang terletak di pinggir Danau Batur, Kecamatan Kintamani,Bangli, Bali. Desa Trunyan memiliki tradisi unik yang dilakukan masyarakat sejak dahulu hingga sekarang, yaitu Desa Adat Trunyan memiliki aturan mengenai tatacara penguburan mayat bagi warganya. Di desa ini dibedakan menjadi tiga jenis kuburan bagi tiga jenis kematian.

Apabila seorang warga Trunyan meninggal secara wajar maka mayatnya akan di tutupi kain putih,diupacarai, kemudian mayatnya diletakkan tanpa dikubur di bawah pohon besar bernama pohon Taru Menyan dan betempat yang bernama Sema Wayah dan mayat akan diantar menuju Sema Wayah menggunakan boat. Namun, apabila penyebab kematiannya tidak wajar misalnya karena kecelakaan,bunuh diri, atau dibunuh orang, mayatnya akan diletakkan di lokasi yang bernama Sema Bantas. Sedangkan untuk mengubur bayi dan anak kecil atau warga yan sudah dewasa tapi belum menikah mayatnya akan diletakkan di lokasi yang bernama Sema Muda.
Di Bali mayat biasanya dibakar atau dikubur, dan perbedaan inilah yang membuat tradisi desa Trunyan sangat unik karena jenazah diletakkan hingga membusuk tetapi tidak . Posisi jenazah berjejer bersanding dengan jenazah lainnya, jenazah tersebut masih lengkap dengan kain yang sebagai pelindung tubuh sewaktu prosesi dan hanya tampah wajahnya dari celah-celah bambu atau yang disebut dengan Ancak Saji. Ancak saji adalah anyaman bambu berbentuk segitiga sama kaki yang berfungsi untuk melindungi jenazah dari binatang buas.
Untuk berkunjung ke Desa Trunyan penyunjung bisa melalui jalur darat dengan waktu 45 menit dari penelokan, atau pengunjung juga bisa melalui akses dermaga di Kedisan dengan menggunakan boat yang telah disiapkan. Untuk menjangkau kuburan Trunyan atau Sema Wayah, pengunjung dapat melalui dua cara, yakni lewat Pelabuhan Kedisan dan lewat Desa Trunyan.
Apabila lewat Desa Trunyan, pengunjung hanya menjangkau sekitar 15 menit perjalanan boat menyusuri pinggir Danau Batur. Jika lewat dermaga, pengunjung bisa menempuh perjalanan boat sekitar 45 menit menyeberangi Danau Batur. Pengunjung dapat menyiapkan uang Rp 500.000 pulang-pergi sekali carter, biasanya sudah satu paket dengan jasa pemandu. Perahu sampan juga tersedia, cocok buat wisatawan yang berpasangan.
Berkunjung ke Trunyan bisa dijadikan satu paket tur ketika Anda sedang berkunjung ke Kintamani dan Danau Batur. Dari setiap sudut mana pun, Gunung Batur akan  menyajikan daya pesonanya yang menyimpan tradisi unik. Kesibukan masyarakat mencari ikan dan mengurus keramba ikan adalah pekerjaan sehari-hari penduduk lokal di sana.

2 komentar:

  1. sudah ada penelitian mengenai pohon tersebut belum ya, mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. pohon trunyan tersebut merupakan pohon yang sudah tua, sehingga pohon tersebut dilindungi. maaf saya kurang mengetahui mengetahui sudah atau belumnya dilakukan penelitian mengenai pohon itu

      Hapus

apabila anda mengutip ataupun menjadikan tulisan saya sebagai referensi mohon mencantumkan sumber dan nama pengarang. terimakasih telah berkunjung